Kyai Soleh Darat Semarang

Kyai Soleh Darat Semarang
07-Mar-2022 | sorotnuswantoro indonesia

Semarang sorotnuswantoro.com || Pada abad ke-19 Masehi, hiduplah seorang ulama yang dikenal pada masanya. Ki Soleh Darat, itulah namanya. Semasa hidupnya, Ki Sholeh Darat dikenal akan ilmunya yang tinggi. Berbagai karya monumental ia buat. Berkat ilmunya yang tinggi itu, ia mendapat pengakuan dari penguasa Mekkah dan dipilih menjadi seorang pengajar di sana.

Selama menjadi seorang guru, banyak muridnya yang kemudian menjadi ulama besar seperti KH Hasyim Asy& 39;ari (Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhhamadiyah), KH Munawir Krapyak, dan juga RA Kartini.

KH Sholeh Darat lahir di Dukuh Kedung Jumbleng, Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Jepara pada tahun 1820 M. Sebagai anak seorang kiai, masa muda Kiai Sholeh Darat banyak dihabiskan dengan belajar ilmu agama. Kiai Sholeh Darat banyak menimba ilmu agama dari berbagai pemuka agama waktu itu. Guru-gurunya mengajari Sholeh muda kitab-kitab yang berisi berbagai macam ilmu agama seperti tafsir, ilmu falak, nahwu sharaf, tasawuf, dan lain sebagainya.

Tak puas sampai di situ, setelah menikah Kiai Soleh Darat merantau ke Mekkah. Di sana ia berguru pada para ulama besar seperti Syekh Muhammad al Muqri, Syekh Ahmad Nahrawi, Sulaiman Hasbullah al-Makki, dan Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan.

Karena ilmunya yang tinggi itu, Ki Sholeh Darat mendapat pengakuan dari penguasa Mekkah saat menuntut ilmu di sana. Ia pun kemudian dipilih menjadi salah seorang pengajar di sana. Di sinilah ia kemudian bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo.

Melihat kehebatan Kiai Sholeh Darat, Mbah Hadi merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang ke tanah air dan mengajar umat Islam di Jawa yang masih awam. Namun karena terikat dengan penguasa Mekkah, ajakan ini ditolak. Namun Mbah Hadi tetap nekat dan menculik Kiai Sholeh Darat.

Agar tidak ketahuan, Mbah Hadi memasukkan Ki Sholeh ke dalam sebuah peti bersama barang bawaannya. Setelah sempat ketahuan, Mbah Hadi dan Ki Sholeh berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat di Jawa dengan selamat.

Sekembalinya ke tanah air Ki Sholeh kemudian mendirikan pesantren baru pada tahun 1870-an di Darat, Semarang. Sekembalinya ke Jawa inilah, ia banyak berdakwah dan menulis berbagai kitab. Ki Sholeh Darat banyak menulis terjemahan kitab-kitab ilmu agama dengan bahasa Jawa. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Kitab tafsir dan terjemahan Alquran yang diberi nama Kitab Faid Ar-Rahman, yang menjadi kitab tafsir Alquran pertama dengan bahasa Jawa.

Kitab inilah yang membuat RA Kartini tertarik terhadap Kiai Soleh Darat. Setelah jadi, kitab itulah yang ia hadiahkan kepada RA Kartini saat menikah dengan R.M. Joyodiningrat. Sebagai seorang ulama, Kiai Sholeh Darat juga dikenal memiliki karamah. Saat dia sedang berjalan kaki menuju Semarang, lewatlah tentara Belanda dengan mengendarai mobil.

Begitu mereka menyalip Ki Sholeh, tiba-tiba saja mobil itu mogok. Mobil itu bisa berjalan lagi setelah tentara Belanda memberi tumpangan pada Kiai Sholeh Darat. Di lain waktu, pemerintah Belanda mencoba menyogok Ki Sholeh Darat dengan menghadiahinya banyak uang dengan harapan dia mau berkompromi dengan pemerintah Belanda.

Mengetahui hal ini, Ki Sholeh Darat marah dan mengubah bongkahan batu menjadi emas di hadapan utusan Belanda itu. Tapi kemudian Ki Sholeh menyesal telah memperlihatkan karamah-nya di depan banyak orang. Dia dikabarkan banyak menangis saat mengingat kembali kejadian itu hingga akhir hayatnya.

Tags